Dosen Tamu dari University Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah Berbagi Riset Material Berkelanjutan untuk Antena

Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (FT UNY) menerima kunjungan dosen tamu dari Faculty of Electrical & Electronics Engineering Technology, University Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah, Malaysia dalam program Visiting Professor Inbound pada 29 September 2025. Kegiatan yang dilaksanakan di Program Studi S1 Teknik UNY ini menghadirkan perspektif riset terkini tentang pengembangan material alternatif untuk komponen elektronika.

Dalam kuliah tamu yang berlangsung selama 2 jam pembelajaran, narasumber menyampaikan materi berjudul "Dielectric Performance of Pineapple Leaf Fibers (PALF) for Radio Antenna Insulators". Topik ini menjadi sangat relevan dengan isu global tentang sustainability dan pengembangan material ramah lingkungan untuk aplikasi teknologi tinggi. Penggunaan serat daun nanas (Pineapple Leaf Fibers/PALF) sebagai material isolator antena merupakan inovasi menarik yang menggabungkan konsep green technology dengan performance engineering. Material ini menawarkan alternatif dari isolator konvensional berbasis petroleum yang tidak terbarukan dan berpotensi mencemari lingkungan.

Presentasi membahas secara mendalam tentang sifat dielektrik PALF yang menjadi parameter kunci dalam aplikasi isolator antena radio. Sifat dielektrik menentukan bagaimana material merespons medan elektromagnetik, yang sangat krusial untuk performa antena dalam transmisi dan penerimaan sinyal radio. Narasumber menjelaskan bahwa PALF memiliki beberapa keunggulan sebagai material isolator antena. Pertama, konstanta dielektrik yang memadai untuk aplikasi frekuensi radio. Kedua, loss tangent yang rendah sehingga meminimalkan disipasi energi. Ketiga, stabilitas termal yang baik untuk operasi dalam berbagai kondisi lingkungan. "Serat daun nanas bukan hanya limbah pertanian yang melimpah di negara tropis seperti Indonesia dan Malaysia, tetapi juga memiliki properti mekanik dan elektrik yang menjanjikan untuk aplikasi engineering," jelas narasumber.

Kuliah tamu ini juga mengupas metodologi riset yang digunakan dalam karakterisasi material PALF. Proses dimulai dari ekstraksi serat dari daun nanas, treatment kimia untuk meningkatkan kualitas serat, hingga fabrikasi menjadi komposit yang siap diuji. Pengujian sifat dielektrik dilakukan menggunakan peralatan sophisticated seperti impedance analyzer dan dielectric test fixture pada berbagai frekuensi operasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menentukan kelayakan material sebagai isolator antena pada aplikasi spesifik seperti antena HF, VHF, atau UHF. Aspek pemodelan dan simulasi juga dibahas, menunjukkan bagaimana software electromagnetic simulation dapat memprediksi performa antena dengan isolator PALF sebelum dilakukan fabrikasi prototipe fisik. Pendekatan ini significantly menghemat waktu dan biaya dalam proses research and development.

Salah satu highlight dari presentasi adalah pembahasan tentang aspek keberlanjutan penggunaan PALF. Indonesia dan Malaysia sebagai negara agraris dengan produksi nanas yang besar menghasilkan limbah daun nanas dalam jumlah masif. Pemanfaatan limbah ini untuk aplikasi teknologi tinggi merupakan contoh nyata konsep circular economy. "Setiap ton buah nanas yang dipanen menghasilkan sekitar 2-3 ton limbah daun. Jika ini bisa kita convert menjadi material bernilai tinggi untuk industri elektronika, kita tidak hanya mengurangi waste tetapi juga menciptakan value chain baru bagi petani," ungkap narasumber. Pembahasan juga menyentuh aspek Life Cycle Assessment (LCA) yang membandingkan environmental footprint PALF dengan material isolator konvensional. Hasilnya menunjukkan bahwa PALF memiliki carbon footprint yang jauh lebih rendah, biodegradable, dan renewable.

Narasumber memaparkan berbagai potensi aplikasi PALF di industri telekomunikasi dan elektronika. Selain isolator antena, material ini juga prospective untuk aplikasi lain seperti PCB substrate, RF connector insulator, dan housing untuk perangkat elektronik yang memerlukan sifat dielektrik spesifik. Diskusi tentang pathway menuju komersialisasi juga menjadi bagian penting. Tantangan yang perlu diatasi mencakup standardisasi kualitas serat, scale-up produksi dari lab scale ke industrial scale, serta sertifikasi material untuk memenuhi standar industri internasional. "Technology Readiness Level (TRL) riset ini saat ini berada di level 4-5. Dengan kolaborasi antara universitas dan industri, kita optimistic bisa mencapai TRL 7-8 dalam 2-3 tahun ke depan, yang berarti ready for commercialization," jelas narasumber.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari Implementation Agreement (IA) antara Program Studi dengan Faculty of Electrical & Electronics Engineering Technology, University Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah dengan nomor referensi B/627.2/UN34.15/HK.01.02/2025. Kerjasama ini tidak hanya mencakup kegiatan pembelajaran dengan dosen tamu, tetapi juga kolaborasi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lebih luas. Prof. Dr. Nurhening Yuniarti, Ketua Departemen Pendidikan Teknik Elektro UNY, menyambut baik inisiatif ini. "Kolaborasi dengan universitas di ASEAN region sangat penting untuk meningkatkan kualitas riset dan pembelajaran kita. University Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah adalah institusi yang kuat dalam research, terutama di bidang engineering materials dan sustainable technology. Partnership ini membuka peluang joint research, student exchange, dan publikasi kolaboratif." Ir. Rustam Asnawi S.T., M.T., Ph.D., Koordinator Program Studi S1 Teknik Elektro UNY, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi internationalization Fakultas Teknik khususnya Prodi S1 Teknik Elektro. "Kita sedang actively membangun network dengan universitas-universitas terkemuka di Asia Tenggara. Visiting professor program adalah salah satu cara efektif untuk knowledge transfer dan membangun research collaboration yang sustainable."

Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro menunjukkan antusiasme tinggi dalam kegiatan ini. Berbagai pertanyaan kritis diajukan, mulai dari aspek teknis karakterisasi material, optimasi treatment serat, hingga strategi publikasi riset di jurnal internasional. Salah satu mahasiswa bertanya tentang perbandingan performa PALF dengan natural fibers lain seperti kenaf atau hemp. Narasumber menjelaskan bahwa setiap jenis serat memiliki karakteristik unik, namun PALF memiliki keunggulan dalam hal availability di region tropis dan processing yang relatif lebih mudah. Diskusi lain membahas tentang durability PALF dalam kondisi outdoor exposure. Narasumber menjelaskan bahwa dengan proper coating dan encapsulation, PALF composite dapat bertahan dalam kondisi outdoor selama bertahun-tahun, comparable dengan material konvensional. Pertanyaan tentang peluang riset untuk mahasiswa juga muncul. Narasumber mendorong mahasiswa untuk explore berbagai aspek riset PALF, seperti effect of fiber orientation pada sifat dielektrik, optimization of composite composition, atau development of hybrid composites dengan natural fibers lain.

Dalam sesi diskusi, kedua institusi mengidentifikasi beberapa area potensial untuk riset kolaboratif. Salah satunya adalah comparative study tentang natural fibers yang available di Indonesia dan Malaysia untuk aplikasi elektronika. Indonesia memiliki kekayaan biodiversity yang menawarkan berbagai jenis serat alam yang belum tereksplorasi maksimal. Potensi joint research dalam pengembangan bio-based composite untuk electromagnetic interference (EMI) shielding juga dibahas. Dengan meningkatnya penggunaan perangkat elektronik, kebutuhan akan material EMI shielding yang efektif dan environmentally friendly semakin tinggi. Kedua pihak juga sepakat untuk explore kemungkinan joint supervision untuk mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik meneliti topik natural fiber composites untuk aplikasi elektronika. Skema ini memungkinkan mahasiswa mendapat exposure ke facilities dan expertise dari kedua universitas.

Kegiatan visiting professor ini memberikan valuable insights bagi mahasiswa tentang cutting-edge research di bidang sustainable materials untuk elektronika. Lebih dari sekadar technical knowledge, mahasiswa juga mendapat gambaran tentang bagaimana riset dilakukan di universitas research-intensive dan pathway untuk mengkomersialkan hasil riset. "Saya impressed dengan approach yang holistic, tidak hanya fokus pada technical performance tetapi juga mempertimbangkan sustainability, economic viability, dan social impact," komentar salah satu mahasiswa peserta. Dosen Program Studi juga merasakan manfaat dari kegiatan ini. "Presentasi ini memberikan inspirasi untuk explore research topics yang menggabungkan engineering excellence dengan environmental consciousness. Ini align dengan SDGs dan relevan dengan challenges yang dihadapi society saat ini," ungkap salah satu dosen.

Keberhasilan kegiatan ini menjadi stepping stone untuk penguatan kerjasama yang lebih luas antara kedua institusi. Rencana follow-up mencakup faculty exchange, joint publication, joint proposal untuk competitive research funding, dan student mobility program. Andik Asmara, Ph.D., sebagai penanggung jawab kegiatan, menyatakan optimisme terhadap prospek kerjasama ini. "Kita memiliki complementary strengths. UNY kuat dalam engineering education dan applied research, sementara UMPSA memiliki excellent research facilities dan strong industry linkage. Kombinasi ini bisa menghasilkan impactful collaboration." Dokumentasi lengkap kegiatan telah diarsipkan dan dapat diakses oleh civitas academica untuk referensi dan pembelajaran. Rencana untuk menindaklanjuti dengan workshop bersama atau webinar series tentang sustainable materials untuk elektronika juga sedang dijajaki.

Kegiatan Visiting Professor Inbound dari University Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah ini successfully memberikan knowledge transfer tentang riset materials terkini, membuka peluang kolaborasi riset internasional, dan menginspirasi mahasiswa serta dosen untuk explore research topics yang impactful dan sustainable. Dengan foundation yang kuat dari Implementation Agreement dan antusiasme dari kedua pihak, kerjasama ini berpotensi berkembang menjadi long-term strategic partnership yang memberikan mutual benefits dan berkontribusi terhadap advancement of science and technology di region ASEAN.